Home

Subscribe:

Labels

Wednesday, 28 December 2011

Maafkan Aku

Sepuluh puluh tahun silam di sebuah kampung tempat orang-orang Tionghoa tinggal, hiduplah seorang remaja keturunan Tionghoa, Lian Anggara namanya. Anak pertama dari dua saudara keluarga bapak Chang Anggara dan ibu Shu Pradita ini lahir layaknya anak normal biasa. Remaja biasa yang baru duduk di bangku kelas 3 SMA ini adalah seorang anak yang cerdas. Seorang Tionghoa yang juga rajin beribadah. Dia mempunyai seorang adik, Xi Shan Pradita yang kini masih belajar di kelas 2 SMP.

Hari itu, Lian menuntut ilmu seperti biasanya di SMA Negeri tak jauh dari rumahnya. Seperti biasanya juga, dia berjalan kaki menuju sekolah tanpa satupun teman bersamanya. Dia selalu berangkat paling pagi di antara teman-temannya.

"Teet…teet…teet…", lonceng berbunyi.

Jam pertama kini dimulai. Pak Rayi wali kelas Lian memberikan hasil ulangan semester genap kemarin. Seluruh kelas terdiam. Semua anak was-was menanti hasil belajar mereka.

"Aldi…", panggil pak Rayi.
"Belajar lagi !", pak Rayi meneruskan.
"Antono… Arya… Chaca… Demian…", pak Rayi memanggil anak-anak satu per satu.
Hingga tiba saat pak Rayi memanggil Lian.
"Lian !", ujar pak Rayi dengan suara sedikit keras.
"Iya, Pak !", jawab Lian.
"Apa selama ini Kamu belajar dengan sungguh-sungguh ? Mengapa semua nilaimu turun ? Padahal semester pertama nyaris nilai kamu di atas 8 semua. Tapi mengapa sekarang seperti ini ?", kata pak Rayi.

Mendengar apa yang dikatakan pak Rayi, Lian terkejut. Dia merasa dapat mengerjakan ulangan  kemarin dengan baik. Tak ada satu patah kata pun yang dapat terucap olehnya.

"Setelah ini kamu ke ruangan saya !", ujar pak Rayi.

Lian pun menemui pak Rayi. Saat itu dipikiran pak Rayi masih menyimpan tanda tanya. Siswa yang dulu bintang kelas kini dia telah berubah.

"Semua nilai kamu turun. Tak mungkin ini suatu kebetulan. Lian, tolong jawab dengan jujur. Apa yang kamu lakukan selama ini ?", tanya pak Rayi.

Lian membisu, pandangannya kosong menghadap lantai.

"Lian, sebenarnya apa yang kamu lakukan saat pelajaran di kelas ? Ingat Lian, kamu sudah kelas 3, sebentar lagi kamu akan lulus, kalau nilai kamu seperti ini, bagaimana kamu mau lulus ?", pak Rayi melanjutkan.

Lian masih tak kuasa mengucap sepatah kata pun. Hingga akhirnya pak Rayi pun berpesan satu hal kepada Lian:

"Berpikirlah dua kali jika tidak ingin orang yang kamu sayangi meninggalkanmu"

Malam itu, Lian menyendiri di bawah pohon beringin dekat jurang cukup jauh dari rumahnya. Dia masih teringat kata-kata pak Rayi tadi pagi. Dibenaknya dia bertanya, "Apa yang telah terjadi ?". Seolah dia masih tak percaya dengan kejadian yang menimpa dirinya. Sesekali dia meneteskan air mata menyesali apa yang terjad. Dia terlalu takut mengatakan ini pada orang tuanya. Dia takut membuat mereka sedih. Hingga pukul 11 malam dia masih terdiam di sana. Lian tak tahu orang tuanya mengkhawatirkan keadaannya. Malam itu pak Chang, ayah Lian mencari Lian. Memang takdir atau hanya kebetulan, mobil yang dikendarai pak Chang tergelincir dan masuk ke jurang. Lian yang melihat ada mobil yang masuk ke jurang langsung mendekat. Dan saat melihat mobil tersebut…

Papa !!!", teriak Lian.

Dia terkejut histeris ketika mengetahui mobil tersebut berisikan papanya. Tak lama kemudian polisi datang ke TKP dan mengevakuasi korban. Terlambat sudah, beliau telah tiada.

Keluarga Lian yang mengetahui kabar ini dari kepolisian lalu pergi ke tempat kejadian. Tangis histeris terpancar dari wajah nyonya Shu dan adik Lian Xi Shan.

"Lian, mana Papamu Nak ?", tanya nyonya Shu kepada Lian.
"Di sana Ma. Papa sudah pulang kepada-Nya", jawab Lian.
"Aahh…(menjerit). Papa…!!! Mengapa Papa meninggalkan mama secepat ini ? Mengapa ? Bangun Pa ??? Bangun !!!", tangis nyonya Shu.
"Pa… Bangun Pa !!! Ini Xi Pa. Bangun !!!", tangis Xi Shan.
"Sudah Ma, Dik… Papa sudah tenang di sana", Lian coba menenangkan.

Percuma. Usaha Lian menenangkan mereka bagaikan badai yang tak dapat dikendalikan. Pikiran mereka kacau, kosong, dan tak bisa mengontrol emosi serta perasaan mereka. Tak percaya ini semua terjadi.

"Diam kamu !! Kamu tak tahu Papamu begini karena dia mencari kamu sampai malam. Kalau kamu tidak pergi, Papa kamu tidak akan mati. Sekarang kamu pergi !! Pergi !!", bentak nyonya Shu kepada Lian.

Nyonya hilang kendali. Kata yang terucap olehnya keluar tanpa disadari. Lian yang mendengar itu menjadi semakin salah. Kehadirannya serasa tak diperlukan. Semua menyalahkannya. Dengan pikiran kacau Lian pun pergi entah ke mana, tanpa tujuan, tanpa alasan. Dengan berat hati dia melangkahkan kakinya dengan tetesan air mata jatuh ke pipinya.

Setelah kematian Papa Chang dan kepergian Lian, kini keluarga itu hidup beranggotakan dua orang saja dengan nyonya Shu sebagai tumpuan hidup mereka. Semenjak kematian Papa Chang, tak ada kabar lagi di mana keberadaan Lian. Keluarganya tampak menyesal akan kepergian Lian. Tapi usaha menemukan Lian tak berhasil.

Tujuh tahun kemudian…

Seorang pria berusia sekitar 27 tahun yang memakai jas hitam dengan tas berisikan surat-surat berharga turun dari mobil mewah di seberang jalan Mahakam nomor 23 itu. Siapa sangka, pria dewasa itu adalah Lian Anggara, anak yang dulu menghilang dari kejamnya hidup kini telah jadi seorang direktur sebuah perusahaan terkemuka di sana.

Tujuh tahun lalu setelah Lian pergi meninggalkan keluarganya, dia seperti orang terlantar di jalanan. Hidupnya tak menentu, tak tahu arah dan tak tahu bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya. Pikrannya setengah gila. Setiap hari menangis di pingggir jalan. Tapi Tuhan masih menyayangi Lian. Dia dipertemukan dengan seorang ustadz, Ahmad Zacky Al Bukhari. Seorang ustadz Pondok Pesantren yang dikenal baik hati dan ramah melihat seorang Tionghoa terlantar di jalan. Rasa iba muncul dari hatinya, lalu beliau menyapanya :

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh", salam Ustadz Zacky.
"Siapa kamu ?", jawab Lian.
"Saya Ahmad Zacky, orang memanggil saya Ustadz Zacky. Lalu siapa namamu wahai saudaraku ?", ujar Ustadz.
"Hah… Orang Islam. Pergi saja kamu. Islam bukan agamaku", kata Lian.
"Astaghfirullahaladzim. Mengapa kamu di sini ?", tanya Ustadz.
"Peduli apa kamu padaku ?? Bukan urusanmu !!", jawab Lian.
"Maaf, tapi saya melihat kamu sedang kesusahan. Apa kamu punya tempat tinggal ?", tanya Ustadz Zacky.
"Saya orang tak berguna, semua tak mengharapkan aku, aku kabur dari rumah", ujar Lian dengan raut wajah sedih hingga meneteskan air mata.
"Astaghfirullahaladzim. Jadi sekarang kamu terlantar di jalanan. Kalau kamu tak keberatan, maukah kamu tinggal dengan saya di Pesantren ?", kata pak Ustadz.
"Pesantren ? Apa itu ?", tanya Lian.
"Pesantren adalah tempat bagi orang Islam yang ingin mempelajari Islam lebih dalam. Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal di sana tapi kamu harus menjadi muslim", kata Ustadz.
"Kalau aku tidak mau menjadi muslim ?", tanya Lian.
"Asal hatimu bersih, pikiranmu tidak kotor dan perilakumu terjaga kamu boleh tinggal di sana. Saya tidak memaksa kamu masuk Islam. Tapi di sana semuanya Islam. Kamu mau kan tinggal di sana ?", ujar ustadz Zacky.

Allah telah membuka pintu hati Lian, Allah telah memberi hidayah kepadanya. Kini Lian Anggara seorang Tionghoa yang menjadi seorang muslim. Selama tujuh tahun itu dia hidup di Pesantren. Selama tujuh tahun pula dia menjadi bagian keluarga Pesantren. Sama seperti saat dia masih konghucu, selama masuk Islam Lian sangat rajin beribadah dan menjadi muslim dengan perilaku yang sopan. Tapi, selama itu dia telah lupa dengan Mama dan Adiknya. Lian yang dulu sempat frustasi akan hidupnya, kini takdir memberinya kesempatan hidup dengan bahagia.

Nyonya Shu melintas di jalan Mahakam nomor 23, dan tak terkira dan tak terduga dia melihat Lian, anak yang tujuh tahun menghilang. Betapa senangnya dia ketika melihat anak pertamanya dengan mata kepalanya sendiri. Terbayarkan sudah rindu hatinya. Nyonya Shu pun menghampirinya.

"Lian !!", sapa Nyonya Shu.
"Maaf, ibu siapa ? Apa kita pernah kenal ?", jawab Lian.

Betapa hancur hati nyonya Shu mendengar jawaban dari anak yang dikandungnya selama 9 bulan 10 hari itu.

"Lian !! Ini ibumu. Kamu lupa pada ibumu Nak? Kamu lupa wanita yang melahirkanmu dan membesarkanmu?", kata nyonya Shu.
"Ibu ?? Aku tak punya ibu. Ibuku jahat. Dia telah mengusirku. Ayah meninggal karena aku. Semua menyalahkanku. Kini aku tak punya siapa-siapa lagi. (dengan perasaan sedih).  Mungkin ibu salah orang", ujar Lian.

Dalam hatinya Lian tahu wanita itu adalah ibunya, tapi dia tak mau kehadirannya hanya sia-sia bagi mereka. Dia terpaksa berbohong.

"Maafkan aku Bu. Aku harus melakukan ini. Aku tak ingin merusak kebahagiaan ibu lagi", kata Lian dalam hati.
"Kamu anakku !!! Kamu anakku !!! Mengapa kamu lupa pada ibumu sendiri Nak ??? Katakan kamu anakku !! Mama rindu padamu Lian", kata nyonya Shu.
"Bukan Ibu. Saya bukan anak ibu", Lian masih berbohong.

Nyonya Shu yang tak kuasa melihat anaknya tak mengakui ibunya, menangis setengah tertawa seperti orang tak waras dan berlari tak tahu arah, hingga akhirnya sebuah truk melintas di hadapannya dan menabraknya. Inilah takdir, nyonya Shu pergi menghampiri papa Chang yang telah lama pergi ke hadapan-Nya.

"Mama… (berlari ke tempat nyonya Shu tergeletak). Bangun Ma. Bangun !! Maafin Lian Ma… Maafin Lian… Lian nggak nyangka akan seperti ini Ma. Lian sayang Mama. Lian sayang semua Ma. Bangun Ma…", ucap Lian dengan menangis sedih.

Setelah kejadian itu, Lian menuju ke rumah Mamanya untuk menemui adiknya, Xi. Sesampainya di sana, Xi Shan senang sekali karena kakaknya telah pulang. Tapi kebahagian itu hanya sesaat. Kesedihan yang dalam terjadi ketika Lian menceritakan bahwa Mama mereka telah tiada. Xi tak percaya apa yang dikatakan Lian. Tapi raut wajah Xi menjadi tegang, cemas, dan tak karuan.

"Kakak pasti bercanda. Kakak bohong kan ?", tanya  Xi.

Lian hanya diam tanpa kata seolah tak kuat lagi mengatakan fakta kepada adiknya.

"Mengapa diam Kak ? Jawab Kak. Kakak bohong kan ?", tanya Xi lagi.

Lian masih tak bersuara. Dia tak kuasa mengatakan lagi pada adiknya. Dengan berat hati, Lian menggelengkan kepalanya pelan dan menangis. Dengan terbata-bata Lian menguatkan berbicara.

"Mama telah pergi Dik. Maafkan Kakak!! Mama tertabrak. Sekarang Mama ada di Rumah Sakit",  kata Lian.
"Tidak !! Tidak!! Tidaaakkk !!!", Xi menjerit histeris.

Xi yang histeris tanpa pikir panjang langsung menuju ke Rumah Sakit. Lian coba menahannya pergi. Dia mengejar Xi yang berlari sekuat mungkin seperti singa yang lepas dari kandangnya dan menuju ke Rumah Sakit. Larinya semakin kencang. Tak ada pikiran lain selain bertemu Mamanya. Lian tak sanggup mengejar adiknya. Lian kembali ke mobil dan mengejar adiknya lagi. Saat hampir mendekati Xi, sebuah motor dengan kecepatan tinggi melintas dari tikungan. Dan terlambat bagi Lian menyelamatkan sang Adik. Tabrakan berdarah terjadi dan Xi mengalami pendarahan yang sangat serius serta patah tulang kaki. Xi pingsan, nafasnya masih terasa, detak jantungnya makin melambat. Lalu Lian membawanya ke rumah sakit, tapi tepat saat sampai di rumah sakit, Xi menghembuskan nafas terakhir. Betapa hancur berkeping-keping hati Lian melihat adik satu-satunya juga meninggalkan dirinya.

Di lorong rumah sakit itu Lian menangis menyesali semua yang telah menimpa dirinya. Dia marah kepada Tuhan yang telah memisahkan dirinya dengan orang yang dia sayangi begitu cepat. Seolah dia tak menerima ini semua. Hatinya sedang kacau, pikirannya kosong, dibayangannya hanya darah yang menyelimuti hatinya. Terpikirkan olehnya pesan pak Rayi :

"Berpikirlah dua kali jika tidak ingin orang yang kamu sayangi meninggalkanmu

Tapi dia telah gagal. Dia tak berpikir dua kali ketika orang yang dia sayangi sedang bersamanya dan kini ketika mereka telah tiada, "Nasi telah menjadi bubur".

Keesokan harinya, dia pergi ke Pesantren untuk berpamitan kepada pak Ustadz dan teman-temannya di sana. Pak ustadz melihat wajah Lian seperti mayat dan hari ini seolah akan pergi lama sekali. Pak Ustadz pun berpesan padanya :

"Hidup ini tantangan, bukan rintangan. Jangan menyerah hanya karena kegagalan menaungimu"

Lian pergi menuju suatu tempat yang mengawali ini semua. Pohon beringin dekat jurang di sanalah tujuannya. Dia berdiri di atas jurang dan merentangkan tangannya sambil menikmati hembus angin yang menggores kulitnya. Anak yang dulu hidup bahagia, yang selalu dibanggakan banyak orang, yang selalu rangking satu di kelas, dan yang tak pernah menangis, kini meneteskan air mata terakhirnya.

"Selamat tinggal dunia…"

No comments:

Post a Comment